hobi yang tidak bisa aku tinggalkan sejak kecil
boneka lucu
Senin, 07 Juni 2010
COMPOUND SENTENCE
A compound sentence contains two independent clauses joined by a coordinator. The coordinators are as follows: for, and, nor, but, or, yet, so. (Helpful hint: The first letter of each of the coordinators spells FANBOYS.) Except for very short sentences, coordinators are always preceded by a comma. In the following compound sentences, subjects are in yellow, verbs are in green, and the coordinators and the commas that precede them are in red.
A. I tried to speak Spanish, and my friend tried to speak English.
B. Alejandro played football, so Maria went shopping.
C. Alejandro played football, for Maria went shopping.
The above three sentences are compound sentences. Each sentence contains two independent clauses, and they are joined by a coordinator with a comma preceding it. Note how the conscious use of coordinators can change the relationship between the clauses. Sentences B and C, for example, are identical except for the coordinators. In sentence B, which action occurred first? Obviously, "Alejandro played football" first, and as a consequence, "Maria went shopping. In sentence C, "Maria went shopping" first. In sentence C, "Alejandro played football" because, possibly, he didn't have anything else to do, for or because "Maria went shopping." How can the use of other coordinators change the relationship between the two clauses? What implications would the use of "yet" or "but" have on the meaning of the sentence?
Kalimat majemuk
Sebuah kalimat majemuk mengandung dua klausa independen bergabung oleh seorang koordinator. Koordinator adalah sebagai berikut: untuk, dan, atau, tetapi, atau, namun, begitu. (Petunjuk Penting: Huruf pertama setiap koordinator FANBOYS mantra) Kecuali. Bagi kalimat-kalimat sangat singkat, koordinator selalu didahului dengan koma. Dalam kalimat majemuk berikut, mata pelajaran yang di kuning, verba dalam hijau, dan koordinator dan koma yang mendahului mereka adalah merah.
A. Saya mencoba berbicara Spanyol, dan teman saya mencoba berbicara bahasa Inggris.
B. Alejandro bermain sepakbola, jadi Maria pergi berbelanja.
Alejandro C. bermain sepak bola, untuk Maria pergi berbelanja.
Tiga kalimat di atas adalah kalimat majemuk. Setiap kalimat mengandung dua klausa independen, dan mereka bergabung dengan koordinator dengan koma mendahuluinya. Perhatikan bagaimana penggunaan sadar koordinator dapat mengubah hubungan antara klausa. Kalimat B dan C, misalnya, adalah identik kecuali untuk koordinator. Dalam kalimat B, yang terjadi tindakan pertama? Jelas, "bermain sepakbola Alejandro" pertama, dan sebagai akibatnya, "Maria pergi belanja Dalam C kalimat," Maria pergi berbelanja "pertama.. Dalam C kalimat," bermain sepakbola Alejandro "karena, mungkin, ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk melakukan, untuk atau karena "Maria pergi berbelanja." Bagaimana penggunaan koordinator lain perubahan hubungan antara dua klausa? Apa implikasi akan penggunaan "belum" atau "tetapi" terhadap makna kalimat tersebut?
http://www.eslbee.com/sentences.htm
A compound sentence is a sentence which has two independent clauses linked together. A compound sentence has to have the two clauses linked together by a conjunction of some sort. This may take the form of a correlative conjunction, a coordinating conjunction, or a semicolon functioning as a conjunction. A comma is often used to help offset the two independent clauses as well, although it is not usually needed grammatically.
One can contrast the compound sentence with both the simple sentence and the complex sentence. A simple sentence is a sentence in which there is a subject and a predicate, and in which a complete thought is expressed, allowing it to stand alone. For example, We run outside every day. is a simple sentence, as is The moon is white. A complex sentence, on the other hand, includes both an independent clause and a dependent clause. For example, the sentence, When stars fall, I like to make wishes. is a complex sentence, with stars fall the dependent clause, and I like to make wishes the independent clause.
To form a compound sentence, you take two independent clauses, which could serve as simple sentences by themselves, and link them with a conjunction. The most common type of conjunction used is the coordinating conjunction. There are seven coordinating conjunctions in English: for, and, nor, but, or, yet, and so. These seven can be easily remembered by the mnemonic FANBOYS, with each letter representing the first letter of each coordinator.
For example, we can take two simple sentences: Jane likes to watch football. and Bob learned to knit. We can then connect them with a coordinating conjunction to create a compound sentence like: Jane likes to watch football, and Bob learned to knit. or Jane likes to watch football, so Bob learned to knit. The coordinating conjunction we use determines the meaning of our compound sentence, and of course not all coordinators work for all independent clauses, but all independent clauses need to have at least one conjunction to be joined together.
A compound sentence can also use a pairing of words that help each other out, known as correlative conjunctions. There are four common pairings of correlative conjunctions: both and and, not only and but also, either and or, and neither and nor. For example, we can take the independent clauses: The moon is full. and The stars are out. We can then join them together using one of our pairings to get: Both the moon is full, and the stars are out. or Neither the moon is full, nor the stars are out.
A semicolon can also act as a conjunction to form a compound sentence. For example, we can take the two independent clauses we just used, and join them together with a semicolon to form: The moon is full; the stars are out. In this way we link the two clauses more closely than if we were to have them as fully independent simple sentences, but we don’t link them more explicitly than that.
Sebuah kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki dua klausa independen terkait bersama-sama. Sebuah kalimat majemuk harus memiliki dua klausa dihubungkan bersama-sama oleh gabungan dari beberapa macam. Hal ini bisa berbentuk konjungsi korelatif, konjungsi koordinasi, atau titik koma berfungsi sebagai sebuah konjungsi. Sebuah koma sering digunakan untuk membantu mengimbangi dua klausa independen juga, meskipun tidak biasanya diperlukan gramatikal.
Satu dapat kontras kalimat majemuk dengan kedua kalimat sederhana dan kalimat kompleks. Sebuah kalimat sederhana adalah kalimat yang ada subyek dan predikat, dan di mana pikiran lengkap diungkapkan, memungkinkan untuk berdiri sendiri. Sebagai contoh, Kami berlari keluar setiap hari. adalah sebuah kalimat sederhana, seperti Bulan adalah putih. Sebuah kalimat yang kompleks, di sisi lain, mencakup klausa bebas dan klausa terikat. Sebagai contoh, kalimat, Ketika bintang-bintang jatuh, saya ingin membuat keinginan. adalah kalimat yang kompleks, dengan bintang-bintang jatuh klausa dependen, dan saya ingin membuat keinginan klausa independen.
Untuk membentuk kalimat majemuk, Anda mengambil dua klausa independen, yang dapat berfungsi sebagai kalimat sederhana sendiri, dan menghubungkan mereka dengan suatu bersama. Jenis yang paling umum digunakan adalah rangka koordinasi bersama. Ada tujuh koordinasi konjungsi dalam bahasa Inggris: bagi, dan, atau, tetapi, atau, belum, dan sebagainya. Tujuh ini dapat dengan mudah diingat oleh FANBOYS mnemonik, dengan setiap huruf yang mewakili huruf pertama dari setiap koordinator.
Sebagai contoh, kita bisa mengambil dua kalimat sederhana: Jane suka menonton sepak bola. dan Bob belajar merajut. Kita kemudian dapat menghubungkan mereka dengan berkoordinasi bersama untuk menciptakan sebuah kalimat majemuk seperti: Jane suka menonton sepak bola, dan Bob belajar merajut. atau Jane suka menonton sepak bola, sehingga Bob belajar merajut. Kata sambung koordinasi kita gunakan menentukan makna kalimat majemuk kita, dan tentu saja tidak semua koordinator bekerja untuk semua klausa independen, tapi semua klausa independen harus memiliki minimal satu konjungsi harus bergabung bersama-sama.
Sebuah kalimat majemuk juga dapat menggunakan pasangan kata yang saling membantu, yang dikenal sebagai konjungsi korelatif. Ada empat pasangan umum konjungsi korelatif: baik dan dan, tidak hanya akan tetapi juga, baik dan atau, dan baik dan tidak. Sebagai contoh, kita dapat mengambil klausa independen: Bulan penuh. dan Bintang-bintang di luar. Kita kemudian dapat bergabung dengan mereka bersama-sama menggunakan salah satu dari pasangan kami untuk mendapatkan: Kedua bulan penuh, dan bintang-bintang berada di luar. atau juga bulan penuh, atau bintang-bintang berada di luar.
titik koma juga dapat bertindak sebagai rangka untuk membentuk sebuah kalimat majemuk. Sebagai contoh, kita dapat mengambil dua klausa independen kami hanya digunakan, dan bergabung dengan mereka bersama-sama dengan titik koma untuk membentuk: Bulan penuh; bintang-bintang berada di luar. Dengan cara ini kita menghubungkan dua klausa lebih dekat daripada jika kami memiliki mereka sebagai independen sepenuhnya kalimat sederhana, tapi kami tidak link mereka lebih eksplisit dari itu.
sumber : http://www.wisegeek.com/what-is-a-compound-sentence.htm
sumber : www.google.com
laporan segmen
NPM : 21207156
Kelas : 3EB03
SISTEM PENGENDALIAN INTERN
Pengendalian Intern merupakan metode yang berguna bagi manajemen untuk menjaga kekayaan organisasi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja. Disamping itu, system pengendalian intern dapat mengendalikan ketelitian dan akurasi pencatatan data akuntansi.
Menurut Committee of Sponsoring Organizations ( COSO) :“Internal controls are the tools that managers use (but are often not taught) to help achieve their business objective in the following categories :
• Effectiveness and efficiency of operations
• Reliability of financial reporting
• Complience with external laws and regulations 3”
Definisi ini dapat diartikan Pengendalian Intern adalah alat yang digunakan oleh para manajer ( tetapi jarang diajarkan) untuk membantu dalam pencapaian tujuan usaha mereka dalam kategori
Ditulis oleh dahlanforum di/pada April 21, 2008
Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari suatu proses pencatatan, yang merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan.
Pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan:
“Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti misal, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misal informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga ”
Dari pengertian diatas laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap, dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada manajemen.
Penyusunan laporan keuangan disiapkan mulai dari berbagai sumber data, terdiri dari faktur-faktur, bon-bon, nota kredit, salinan faktur penjualan, laporan bank dan sebagainya. Data yang asli bukan saja digunakan untuk mengisi buku perkiraan, tetapi dapat juga dipakai untuk membuktikan keabsahan transaksi.
Laporan keuangan terdiri dari:
- Neraca, menginformasikan posisi keuangan pada saat tertentu, yang tercermin pada jumlah harta yang dimiliki, jumlah kewajiban, dan modal perusahaan.
- Perhitungan laba rugi, menginformasikan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu.
- Laporan arus kas, menginformasikan perubahan dalam posisi keuangan sebagai akibat dari kegiatan usaha, pembelanjaan, dan investasi selama periode yang bersangkutan.
- Catatan atas laporan keuangan, menginformasikan kebijaksanaan akuntansi yang mempengaruhi posisi keuangan dari hasil keuangan perusahaan.
Laporan keuangan diharapkan disajikan secara layak, jelas, dan lengkap, yang mengungkapkan kenyataan-kenyataan ekonomi mengenai eksistensi dan operasi perusahaan tersebut. Dalam menyusun laporan keuangan, akuntansi dihadapkan dengan kemungkinan bahaya penyimpangan (bias), salah penafsiran dan ketidaktepatan. Untuk meminimkan bahaya ini, profesi akuntansi telah berupaya untuk mengembangkan suatu barang tubuh teori ini. Setiap akuntansi atau perusahaan harus menyesuaikan diri terhadap praktik akuntansi dan pelaporan dari setiap perusahaan tertentu.
Untuk tujuan pelaporan internal dan evaluasi kinerja, manajemen mengorganisasikan operasi perusahaannya menurut jenis atau kelompok produk/jasa yang berkaitan. Sebagai contoh, perusahaan terdiri dari divisi produk kertas, divisi produk kantor, dan divisi penerbitan.
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 5 (PSAK 5) dan International Accounting Standard No. 14 (IAS/IFRS 14), segmen perusahaan yang didasarkan kepada jenis atau kelompok produk/jasa semacam itu dinamakan segmen usaha (business segment).
Suatu segmen usaha biasanya memiliki risiko dan tingkat return yang berbeda dengan segmen usaha lainnya.
Perusahaan juga dapat disegmentasi menurut wilayah geografis. Misalnya, divisi Jawa Barat, divisi Jawa Tengah dan DIY, dan divisi Jawa Timur. Dalam PSAK 5 dan IAS/IFRS 14, segmentasi yang didasarkan kepada wilayah dinamakan segmen geografis (geographical segment).
Suatu segmen geografis tertentu juga biasanya memiliki risiko dan tingkat return yang berbeda dengan segmen geografis lainnya.
Statement of Financial Accounting Standard No. 131 (SFAS 131) menyatakan bahwa segmentasi yang dimaksud di dalam SFAS 131 didasarkan kepada pendekatan manajemen. Jika pelaporan dan evaluasi kinerja manajerial didasarkan secara geografis, maka pelaporan segmen juga harus didasarkan secara geografis. Jika pelaporan dan evaluasi kinerja didasarkan kepada produk, pelaporan segmen juga harus didasarkan kepada produk.
SFAS 131 menggunakan istilah segmen operasi (operating segment) tanpa secara eksplisit membedakannya menjadi segmen usaha dan segmen geografis. Segmen operasi didefinisi sebagai komponen suatu perusahaan yang memiliki kriteria sebagai berikut:
• Menyelenggarakan aktivitas usaha, yang dari aktivitas itu dihasilkan pendapatan (revenue) dan timbul biaya (expense). Pendapatan dan biaya itu mencakup juga pendapatan dan biaya antarsegmen.
• Hasil operasinya (laba atau rugi) secara rutin direview oleh manajemen puncak perusahaan.
• Laporan keuangan terpisah untuk segmen itu tersedia.
Meskipun tidak secara eksplisit menggunakan istilah segmen operasi, PSAK 5 dan IAS/IFRS 14 juga mengadopsi pendekatan manajemen dalam menentukan segmen usaha/geografis yang harus dilaporkan. Sumber ; http://www.accountingresources.info/2009/11/pelaporan-segmen-apa-yang-dimaksud.html
membuat proposal
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bank dan lembaga keuangan merupakan lembaga berbadan hukum yang berperan penting dalam perekonomian suatu negara untuk mengatur peredaran uang baik uang kartal maupun giral. Sebagai lembaga intermediasi antara pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana dan pihak yang memerlukan dana, diperlukan bank dengan kinerja keuangan yang sehat, sehingga fungsi intermediasi dapat berjalan lancar.
Perbankan indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 1988 - 1996. Pertumbuhan yang pesat itu ternyata tidak dapat mendorong terciptanya industri perbankan yang kuat. Krisis keuangan yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang dimulai dengan merosotnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah menghancurkan perekonomian termasuk pada sektor perbankan. Krisis moneter yang terus menerus mengakibatkan krisis kepercayaan, akibatnya banyak bank yang lumpuh karena dihantam kredit macet.
Banyaknya masyarakat yang menanamkan dananya pada bank berpengaruh positif bagi perekonomian Indonesia. Ini merupakan contoh ketertarikan masyarakat akan tersedianya fasilitas perbankan yang ada. Dengan perekonomian yang matang dan faktor – faktor yang mendukung tersebut, maka diharapkan bank mampu berkembang dengan pesat diperekonomian Indonesia.
Sebagaimana layaknya manusia, dimana kesehatan merupakan hal yang paling penting didalam kehidupannya. Dimana didalam tubuh yang sehat akan meningkatkan kemampuan beraktivitas dalam sehari-hari. Begitu pula dengan perbankan, sebagai salah satu lembaga keuangan, bank harus selalu dinilai kesehatannya agar tetap prima dalam dalam melayani nasabanhya salah satu faktor yang harus diperhatikan oleh bank untuk bisa terus bertahan hidup adalah kinerja (kondisi keuangan) bank.
Ukuran untuk melakukan penilaian kesehatan bank telah ditentukan oleh bank Indonesia. Kepada bank-bank diharuskan membuat laporan yang bersifat rutin ataupun secara berkala mengenai seluruh aktivitasnya dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan hasil perhitungan laporan keuangan ini dapat diketahui kenaikan ataupun penurunan tingkat kesehatan suatu bank.
Untuk menilai kinerja perusahaan perbankan umumnya digunakan enam aspek penilaian,yaitu: 1)Capital; 2)Assets; 3)Management; 4)Earnings; 5) Liquidity; 6) Sensitivity to market risk, yang biasa disebut CAMELS. Capital adalah penilaian yang didasarkan pada permodalan yang dimiliki oleh bank. Assets adalah penilaian yang didasarkan pada kualitas aktiva yang dimiliki oleh bank. Management adalah penilaian yang didasarkan pada manajemen umum, penerapan sistem manajemen resiko untuk aspek permodalan, aspek aktiva, aspek likuiditas dan aspek lainnya serta kepatuhan bank yang dimiliki oleh bank yang bersangkutan. Earnings adalah penilaian yang didasarkan pada kemampuan suatu bank dalam menghasilkan laba. Liquidity adalah penilaian yang didasarkan pada kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya. Sedangkan Sensitivity to Market Risk adalah penilaian mengenai sensitivitas bank yang bersangkutan terhadap resiko pasar.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin mengetahui tingkat kesehatan pada PT. BANK MANDIRI Tbk pada tahun 2008 - 2009 dengan menggunakan rasio CAMELS. Untuk itu peneliti mengambil judul “ Analisis Tingkat Kesehatan Bank pada PT. Bank Mandiri Tbk, periode 2008 – 2009”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah perbedaan tingkat kesehatan pada PT. Bank Mandiri (persero),Tbk pada tahun 2008 - 2009 ?
2. Apakah tingkat kesehatan pada PT. Bank Mandiri (persero), Tbk pada tahun 2008 - 2009 sudah sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia ?
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti hanya menganalisis tingkat kesehatan pada PT.Bank Mandiri Tbk, menggunakan metode CAMELS, yaitu Capital (permodalan), Assets (aktiva produktif), Management (Manajemen), Earnings (rentabilitas), Liquidity (tingkat likuiditas), dan Sensitivity to Market Risk (sensitivitas terhadap resiko pasar). Untuk menghitung rasio-rasio tersebut, penulis menggunakan data dari laporan keuangan pada tahun 2008 - 2009.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti melakukan penelitian ilmiah ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kesehatan pada PT. Bank Mandiri (persero),Tbk pada tahun 2008 - 2009.
2. Untuk mengetahui tingkat kesehatan pada PT. Bank Mandiri (persero),Tbk pada tahun 2008 - 2009 sudah sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Bank
Menurut UU RI No. 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan BANK adalah “Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk – bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”(Tim Abdi Guru : 2005 : 150)
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan per 1 Oktober 2004 N0. 31 (2004 : 31) pengertian dari bank adalah “Suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak – pihak yang memiliki dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana serta lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.”
Aktivitas perbankan yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat luas, dalam dunia perbankan dikenal dengan istilah funding. Pengertian menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau mencari dana dengan cara membeli dari masyarakat luas. Pembelian dana dari masyarakat ini dilakukan oleh bank dengan cara memasang berbagai strategi agar masyarakat berkeinginan untuk menanamkan dananya dalam bentuk simpanan. Jenis simpanan yang dapat dipilih oleh masyarakat adalah seperti giro, tabungan, sertifikat deposito dan deposito berjangka.
Setelah memperoleh dana dalam bentuk simpanan dari masyarakat, maka oleh perbankan dana tersebut dijual kembali kemasyarakat dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan istilah kredit (lending). Dalam pemberian kredit juga dikenakan jasa pinjaman kepada penerima kredit (debitur) dalam bentuk bunga dan biaya administrasi. Sedangkan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah dapat berdasarkan bagi hasil atau penyertaan modal.
2.2 Jenis Bank
Dalam praktik perbankan di Indonesia saat ini terdapat beberapa jenis perbankan yang diatur dalam undang – undang perbankan. Jika kita lihat jenis perbankan sebelum keluarnya undang- undang perbankan No. 10 tahun 1998 dengan sebelumnya yaitu undang – undang No. 14 tahun 1967, maka terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan jenis perbankan dapat dilihat dari segi fungsi bank, serta kepemilikan bank.
Adapun jenis perbankan pada saat ini dapat ditinjau dari berbagai segi antara lain (Kasmir, 2004 : 32) :
1. Dilihat dari segi fungsinya
Menurut undang – undang pokok perbankan No. 14 tahun 1967 jenis perbankan menurut fungsinya terdiri dari :
a. Bank Umum
b. Bank Pembangunan
c. Bank Tabungan
d. Bank Pasar
e. Bank Desa
f. Lumbung Desa
g. Bank Pegawai
h. Dan bank jenis lainnya
Namun setelah keluar undang – undang pokok perbankan No. 7 tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya undang – undang RI No. 10 tahun 1998 maka jenis perbankan terdiri dari :
a) Bank Umum
Yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Sifat jasa yang diberikan adalah umum, dalam arti dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Begitu pula dengan wilayah operasinya dapat dilakukan diseluruh wilayah. Bank umum sering disebut bank komersil ( commercial bank ).
b) Bank Perkreditan Rakyat ( BPR )
Yaitu bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Artinya kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan Bank Umum.
Kegiatan BPR hanya meliputi kegiatan penghimpunan dan menyalurkan dana saja, bahkan dalam penghimpunana dana BPR dilarang untuk menerima simpanan giro. Begitu pula dalam hal jangkauan wilayah operasi, BPR hanya dibatasi dalam wilayah tertentu saja. Selanjutnya pendirian BPR dengan modal awal yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan modal awal Bank Umum.
2. Dilihat dari segi kepemilikannya
Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya adalah sebagai berikut :
a. Bank Milik Pemerintah
Yaitu dimana baik akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan Bank ini dimiliki oleh pemerintah pula. Contoh Bank Milik Pemerintah antara lain :
a) Bank Negara Indonesia 1946 (BNI)
b) Bank Rakyat Indonesia (BRI)
c) Bank Tabungan Negara (BTN)
b. Bank Milik Swasta Nasional
Yaitu bank yang seluruh atau sebagian besar dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya diambil oleh swasta pula. Contoh Bank Milik Swasta Nasional antara lain :
a) Bank Muamalat
b) Bank Central Asia ( BCA )
c) Bank Internasional Indonesia ( BII )
c. Bank Milik Koperasi
Yaitu salah satu jenis bank yang kepemilikan modalnya dimiliki oleh perusahaan yang berbadan hokum koperasi. Sebagai contoh adalah Bank Umum Koperasi Indonesia.
d. Bank Milik Asing
Yaitu cabang dari bank yang berada diluar negeri, baik milik swasta asing maupun pemerintah asing. Kepemilikan saham serta modalnya dimiliki oleh luar negeri. Contoh Bank Milik Asing antara lain :
a) Citi Bank
b) Bank of Tokyo
e. Bank Milik Campuran
Yaitu bank yang kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Dimana kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga Negara Indonesia. Contoh Bank Milik Campuran adalah Fuji Bank Internasional Indonesia ( bank campuran antara Bank Internasional Indonesia dengan Fuji Bank Japan ).
3. Dilihat dari segi status
Pembagian jenis bank dari segi status merupakan pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukkan ukuran kemampuan bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal maupun kualitas pembayarannya.
Jenis bank dilihat dari segi statusnya adalah sebagai berikut :
a. Bank Devisa
Yaitu bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer keluar negeri, insako keluar negeri, travelers cheque, pembukaan dan pembayaran Letter of Credit ( L/C ) dan transaksi lainnya. Contoh Bank Devisa antara lain :
a) Bank Central Asia ( BCA )
b) Bank Internasional Indonesia ( BII )
c) Bank Bukopin
d) CIMB Niaga
b. Bank Non Devisa
Yaitu bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya bank devisa. Jadi Bank non devisa merupakan kebalikan dari pada bank devisa, dimana transaksi yang dilakukan masih dalam batas – batas suatu Negara.
4. Dilihat dari segi pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha
a. Bank Konvensional
Yaitu bank yang mencari keuntungan dan menentukan harga kepada para nasabahnya. Jenis bank ini menggunakan dua metode dalam melayani para nasabahnya yaitu :
a) Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk jenis produk perbankan berupa simpanan, seperti giro, tabungan, dan deposito. Demikian pula untuk produk pinjaman ( kredit ), baik kredit jangka pendek maupun jangka panjang juga berdasarkan tingkat bunga.
b) Pihak perbankan konvensional juga menerapkan biaya dalam nominal atau presentase tertentu untuk jasa perbankan lainnya, seperti transfer dalam dana luar negeri, safe deposito box, dan sebagainya.
b. Bank berdasarkan Prinsip Syariah
Yaitu salah satu jenis bank yang dalam penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional. Selain itu, bank syariah merupakan bank yang aturan perjanjiannya berdasarkan hukum islam.
Penentuan harga bagi bank berdasarkan prinsip syariah adalah sebagai berikut :
a) Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil keuntungan (mudharabah)
b) Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaab modal (musharakah)
c) Pembiayaan dengan mengambil bentuk transaksi jual beli barang dengan cicilan antara bank dan nasabah (murabahah)
d) Pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan bagi hasil (ijarah)
e) Pembiayaan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa oleh pihak lain (ijarah wa’iqtina)
Sumber penentuan harga pada bank dengan prinsip syariah dasar hukumnya adalah Al-Qur’an dan sunnah rasul. Bank berdasarkan prinsip syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank yang berdasarkan pada prinsip syariah, bunga adalah riba.
1.3 Laporan Keuangan
2.3.1 Definisi Laporan Keuangan
Pengertian laporan keuangan menurut Hery (2009 : 6) “ Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak - pihak yang berkepentingan.”
Sedangkan menurut S.Munawir (1995:2) ”Laporan keuangan adalah hasil proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.”
2.3.2 Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang dihasilkan manajemen adalah laporan keuangan yang bertujuan umum. Hal ini disebabkan akuntan percaya bahwa informasi yang dibutuhkan oleh pemakai informasi adalah sama, maka laporan keuangan yang bertujuan umum adalah lebih menguntungkan. Tujuan laporan keuangan menurut Yoga Firdaus, dkk ( 2005 : 26 ) adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva, kewajiban, serta modal suatu perusahaan.
2. Memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam aktiva neto ( aktiva dikurangi kewajiban ) suatu perusahaan yang timbul dan kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
3. Memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4. Memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas pembiayaan dan investasi.
5. Mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijakan akuntansiyang dianut perusahaan.
Tujuan laporan keuangan diatas akan lebih bermanfaat bila dipenuhi ketujuh kualitas sebagai berikut : ( Yoga Firdaus, dkk : 2005 : 11 )
1. Relevan, relevensi suatu informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Bila informasi tidak relevan untuk keperluan para pengambil keputusan, informasi demikian tidak akan ada gunanya, walaupun kualitas lainnya terpenuhi.
2. Dapat dimengerti, informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya, dan dinyatakan dalam bentuk dengan istilah yang disesuaikan dengan batas pengertian para pemakai.
3. Daya uji, informasi harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
4. Netral, informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak tergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak – pihak tertentu.
5. Tepat waktu, informasi harus disampaikan sedini mungkin untuk dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi dan untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
6. Daya banding, informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan perusahaan-perusahaan lainnya pada periode yang akan datang.
7. Lengkap, informasi keuangan dikatakan lengkap bila dapat memenuhi keenam tujuan kualitatif diatas dan dapat memenuhi standar pengungkapan dalam laporan keuangan.
2.3.3 Pihak – pihak Yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan
S.Munawir ( 2001: 2 ) menyebutkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan, yaitu para pemilik perusahaan, manager perusahaan yang bersangkutan, para kreditur, bankers, para investor dan pemerintah dimana perusahaan tersebut berdomosili, buruh serta pihak-pihak lainnya lagi.
Pemilik perusahaan ( pemegang saham ), sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaannya terutama untuk perusahaan yang kepemimpinannya diserahkan oleh orang lain seperti perseroan, karena dalam laporan tersebut pemilik perusahaan akan dapat menilai sukses tidaknya manager dalam memimpin perusahaannya yang diukur dengan laba yang diperoleh perusahaan.
Manager atau pimpinan perusahaan, dengan mengetahui posisi keuangan perusahaan periode yang baru, lalu akan dapat menyusun rencana yang lebih baik, memperbaiki system pengawasannya dan menentukan kebijakan-kebijakannya yang lebih tepat. Investor, berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangka penentuan kebijaksanaan pennaman modalnya, yang sangat berpengaruh terhadap prospek keuntungan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang.
Dalam mengambil keputusan investor dapat memberi atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan perlu diketahui terlebih dahulu posisi keuangan dari perusahaan yang bersangkutan, guna menganalisa laporan keuangan. Penggunaan laporan keuangan bagi karyawan dibuat agar dapat menilai apakah ada pemberian premi atas bonus untuk karyawan tiap akhir periode dan selain itu juga berdasarkan tingkat laba yang dihasilkan.
Pihak lain yang juga berperan penting adalah pemerintah dimana perusahaan tersebut berdomisili, sangat berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan tersebut. Disamping untuk menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan juga sangat diperlukan oleh Biro Pusat Statistik ( BPS ), Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja untuk dasar perencanaan pemerintah.
2.3.4 Jenis-jenis Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggung jawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan. Disamping itu laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan.
Jenis–jenis laporan keuangan menurut Yoga Firdaus, dkk ( 2005: 62 ) yang disusun oleh manajemen biasanya terdiri dari :
1. Neraca, yaitu suatu laporan keuangan yang menyajikan informasi mengenai keadaan harta, utang, dan modal suatu perusahaan pada saat neraca disusun.
2. Laporan laba rugi (income statement), yaitu suatu laporan keuangan yang menyajikan informasi mengenai seluruh hasil operasi (pendapatan) dan beban yang dikeluarkan (beban usaha) dalam kegiatan selama suatu periode tertentu dalam rangka memperoleh laba.
3. Laporan perubahan modal (statement of owner’s equity), yaitu suatu laporan keuangan yang menyajikan informasi mengenai perubahan modal suatu perusahaan yang terjadi selama periode tertentu.
4. Laporan arus kas, yaitu suatu laporan keuangan yang menyajikan informasi relevan tentang penerimaan, pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode tertentu.
2.4 Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank
Menyadari arti pentingnya kesehatan suatu bank bagi pembentukan kepercayaan dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakan prinsip kahati-hatian (prudential banking) dalam dunia perbankan, maka Bank Indonesia merasa perlu untuk menerapkan aturan tentang kesehatan bank. Dengan adanya aturan tentang kesehatan bank ini, perbankan diharapkan selalu dalam kondisi sahat, sehingga tidak akan merugikan masyarakat yang berhubungan dengan perbankan. Bank yang beroperasi dan berhubungan dengan masyarakat diharapkan hanya bank yang betul-betul sehat. Aturan tentang klesehatan bank yang diterapkan oleh bank Indonesia mencakup berbagai aspek dalam kegiatan bank, mulai dari penghimpunan dana sampai dengan penggunaan dan penyaluran dana.
Berdasarkan peraturan Bank Indonesia NO. 6/10/P/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 dan Surat Edaran Bank Indonesia NO. 6/23/DPNP ( Dewan Pengawas Perbankan Nasional ) tanggal 31 Mei 2004 mengenai “ Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dengan menggunakan metode CAMELS “ merupakan analisa keuangan suatu bank dan penilaian manajemen suatu bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk mengetahui tingkat kesehatan dari bank yang bersangkutan. Analisa CAMELS meliputi enam aspek, yaitu sebagai berikut : ( Dahlan Siamat : 209 : 2005 )
2.4.1 Capital ( permodalan )
a. CAR ( Capital Adequacy Ratio )
CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank serta menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. CAR juga berperan sebagai indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang beresiko.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, bank diwajibkan untuk memelihara kewajiban penyediaan modal minimum ( KPMM ) sekurang-kurangnya 8% . ini berarti bahwa CAR (Capital Adequacy Ratio) dari suatu bank umum sekurang-kurangnya harus mencapai nilai 8% ( Lukman Dendawijaya : 2005 : 144 ).
Rasio ini dirumuskan sebagai berikut :
Modal Bank
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
2.4.2 Assets ( Kualitas Aktiva Produktif )
Penilaian ini didasarkan kepada kualitas aktiva yang dimiliki oleh bank. Penilaian asset harus sesuai dengan peraturan oleh Bank Indonesia undang-undang No. 7/10/BPMT tanggal 31 Maret 2005 dengan memperbandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif kemudian penyisihan penghapusan aktiva produktif yang diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat dari neraca yang dilaporkan secara berkala (Kasmir : 2002 : 30).
Penilaian unsur ini tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. KAP (Kualitas Aktiva Produktif) atau BDR ( Bad Debt Ratio )
KAP adalah salah satu penilaian pada aspek kualitas aktiva yang dicari dengan membandingkan antara jumlah aktiva yang dklasifikasikan dengan jumlah aktiva produktif.
Jumlah aktiva produk yang diklasifikasikan
Jumlah Aktiva Produktif
atau
25% DPK + 50% KL + 75% D + 100% M
Jumlah Aktiva Produktif
Keterangan :
BDR : Bad Debt Ratio (Kualitas Aktiva Produktif)
DPK : Dalam Perhatian Khusus
KL : Kurang Lancar
D : Diragukan
M : Macet
b. PPAP ( Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif )
PPAP merupakan salah satu perhitungan pada aspek kualitas aktiva yang didapat dengan cara membandingkan antara jumlah aktiva yang telah dibentuk dengan jumlah aktiva yang wajib dibentuk.
Jumlah PPAP Yang Telah Dibentuk
Jumlah PPAP Yang Wajib Dibentuk
2.4.3 Managemen ( Manajemen )
Managements of Risks merupakan inti dari pengukuran masyarakat apakah sebuah bank telah dikelola berdasarkan asas-asas perbankan yang sehat atau dikelola secara tidak sehat. Ada beberapa hal mendasar yang dapat menguji perbankan dapat juga diukur melalui penilaian aspek manajemen yang meliputi bidang manajemen umum, dan manajemen resiko. Aspek manajemen umum meliputi strategi/sasaran, struktur, sistem, sumber daya manusia, kepemimpinan dan budaya kerja. Sedangkan aspek dari manajemen resiko meliputi (Dahlan Slamet : 2005 : 279)
a) Resiko Likuiditas, yaitu resiko yang mungkin dihadapioleh bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya dalam rangka memenuhi permintaan kredit dan semua penarikan dana oleh penabung pada suatu waktu.
b) Resiko Pasar, yaitu resiko yang terjadi ketika lembaga keuangan mengambil posisi terbuka ( open position ) atau unhedget ( membeli ( long ) atau menjual ( short ) obligasi, komoditas, dan derivatif ) dimana harga-harga kemungkinan berubah kearah berlawanan dari yang diperkirakan.
c) Resiko Kredit, yaitu suatu resiko akibat kegagalan atau ketidak mampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diperoleh dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan atau dijadwalkan.
d) Resiko Operasional, yaitu suatu resiko yang terjadi akibat kegagalan atau kerusakan atau gangguan terhadap teknologi atau dukungan system dalam kegiatan operasional bank.
e) Resiko Investasi, yaitu resiko yang berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kerugian akibat suatu penurunan nilai portfolio surat-surat berharga.
f) Resiko Penyelewengan, yaitu resiko yang berkaitan dengan kerugian-kerugian yang terjadi akibat ketidak jujuran, penipuan, atau moral dan perilaku yang kurang baik dari pejabat, karyawan dan nasabah bank.
g) Resiko Fudisia, yaitu resiko yang timbul akibat usaha bank dalam memberikan jasa dengan bertindak sebagai wali amanat baik untuk individu maupun badan usaha.
h) Resiko Tingkat Bunga, yaitu resiko yang timbul akibat berubahnya tingkat bunga yang pada gilirannya akan menurunkan nilai pasar surat-surat berharga dan pada saat yang sama, bank membutuhkan likuiditasnya.
i) Solvency Risk, yaitu resiko yang disebabkan oleh ruginya beberapa asset yang pada gilirannya menurunkan posisi modal bank.
j) Resiko Valuta Asing, yaitu resiko yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar valuta asing terhadap rupiah.
k) Resiko Persaingan, yaitu resiko yang terjadi karena produk-produk yang ditawarkan oleh bank hamper seluruhya homogeny, sehingga persaingan antara bank lebih terfokus pada kemampuan bank memberikan pelayanan kepada nasabah secara professional dan paling baik.
Untuk penilaian menyeluruh bagi manajemen bak yang professional, ada 100 aspek pertanyaan yang menjadi ukuran.
2.4.4 Earning ( Rentabilitas )
Earning merupakan penilaian terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba terhadap asset yang dimiliki perusahaan.
Analisa rasio rentabilitas bank adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan.unsur yang dinilai adalah laba sebelum pajak dengan total asset.
Dalam perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan timbal balik antara pos yang terdapat pada laporan laba rugi bank dengan pos-pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan.
Analisa rasio rentabilitas suatu bank antara lain sebagai berikut :
a. ROA ( Return on Assets )
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Laba Sebelum Pajak
Total Aktiva
b. ROE ( Return on Earning )
Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan laba bersih dengan modal sendiri. Semakin besar ROE suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Laba Bersih
Modal Sendiri
c. NPM ( Net Profit Margin )
NPM adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan laba yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Perhitungannya adalah sebagai berikut :
Laba Bersih
Pendapatan Operasional
d. BOPO (Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional)
BOPO merupakan perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi dan tingkat kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Biaya Operasional
Pendapatan Operasional
2.4.5 Liquidity ( Likuiditas )
Likuiditas merupakan analisis yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya adalah kewajiban yang sudah jatuh tempo. Beberapa rasio likuiditas yang sering dipergunakan dalam menilai kinerja suatu bank adalah :
a. LDR (Loan to Deposit Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. LDR adalah rasio yang menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sumber likuiditasnya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Jumlah Kredit yang Diberikan
Dana yang Diterima
Semakin tinggi rasio ini memberikan indikasi maka semakin rendah kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin mebesar. Dana pihak ketiga berasal dari :
a) Giro
b) Deposito Berjangka
c) Sertifikat Deposito
d) Tabungan
e) Kewajiban Jangka Pendek lainnya
b. Call Money
Perhitungan untuk aspek likuiditas yang kedua adalah call money. Call money adalah pinjaman antar bank yang dilakukan dan diselesaikan segera dalam tempo kurang dari satu minggu. Analisis call money dapat dihitung antara perbandingan kewajiban bersih call money dibagi dengan modal inti.
Rumusnya adalah sebagai berikut :
Kewajiban Bersih Call Money
Modal Inti
2.4.6 Aspek Sensitivy To Market Risk ( Sensitivitas Terhadap Risko Pasar )
Pada aspek ini penilaian didasarkan atas kemampuan bank dalam mengantisipasi risiko atas perubahan tingkat suku bunga dan nilai tukar, serta penilaian kecukupan penerapan sistem manjemen risiko pasar.
Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 pada bagian lampiran 1F. penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatof factor sensitivitas terhadap risiko pasar antra lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut :
a. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bungan dibandingkan dengan potensial loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga, yaitu :
Ekses Modal
Potential Loss Suku Bunga
Keterangan :
a) Ekses modal adalah kelebihan dari modal minimum yang ditetapkan khusus
digunakan untuk megantisipasi resiko suku bunga, dimana : Ekses modal suku bunga adalah total modal untuk resiko pasar dan resiko kredit – ( modal untuk resiko pasar - modal untuk resiko suku bunga ) - ( modal untuk resiko pasar-modal untuk resiko suku bunga ).
b) Potensi kerugian suku bunga adalah ( gap position dari eksposur trading book + banking book ) x fluktuasi suku bunga, dimana : Trading book adalah seluruh posisi perdagangan bank pada instrumen keuangan dalam neraca, rekening administratif, dan transaksi derivatif.
Banking book adalah transaksi yang tidak termasuk dalam trading book.
Pada transaksi dalam valuta asing dan rupiah terdapat tagihan dan kewajiban, dimana tagihan akan menambal), sedangkan kewajiban akan mengurangi Fluktuasi Suku Bunga adalah rata - rata fluktuasi suku bunga dalam satu tahun.
b. Modal atau cadangan yang dibentak untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi ( adverse movement ) nilai tukar, yaitu :
Ekses Modal
Potential Loss Nilai Tukar
Keterangan:
a. Ekses Modal adalah kelebihan modal dari modal minimum yang ditetapkan,
khusus digunakan untuk mengantisipasi resiko Nilai Tukar.
Ekses modal nilai tukar adalah total modal untuk resiko pasar dan resiko kredit - ( modal untuk resiko pasar - modal untuk resiko nilai tukar ) ekses modal nilai tukar = ( modal inti + modal pelengkap – penyertaan ) - ( modal untuk resiko pasar - modal untuk resiko nilai tukar )
b. Potensi kerugian nilai tukar adalah ( gap position dari eksposur trading book
valas + banking book ) x fluktuasi nilai tukar.
c) Trading book adalah seluruh posisi perdagangan bank pada instrumen keuangan dalam neraca, rekening administratif, dan transaksi derivatif.
Banking book adalah transaksi yang tidak termasuk dalam trading book.
Pada transaksi dalam valuta asing dan rupiah terdapat tagihan dan kewajiban, dimana tagihan akan menambali, sedangkan kewajiban akan mengurangi Fluktuasi Nilai Tukar = rata-rata fluktuasi nilai tukar dalam satu tahun
c. Kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar masih berhubungan dengan penilaian aspek manajemen, diantaranya meliputi:
a) Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi Bank terhadap potensi eksposure resiko pasar
b)Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian risiko pasar serta sistem informasi manajemen resiko pasar
d) Efektivitas pelaksanaan pengendalian intern ( internal control ) terhadap eksposure resiko pasar, termasuk kecukupan fungsi audit intern
2.5 Predikat dan Rasio Kesehatan Bank
Predikat dan rasio kesehatan bank sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 pada bagian Lampiran 2A - 2F adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1
Predikat dan Rasio Kesehatan Bank
Peringkat % Peringkat Peringkat Peringkat Peringkat
Komposit Komposit 1 & 2 Komposit 3 Komposit 4 Komposit 5
Predikat Sehat Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sebat
Nilai Kredit >81 >66%-<81 % >51%-<66% <51 %
CAR 25 % >8% 6,5 % - 7,9 % 5 % - 7,9 % <4,9%
BDR 5% < 11,9% 13,9%- 12% 20 % - 14 % 25 %-19,9%
PPAP 5 % > 54 % 44 % - 53,9 % 34 % - 43,9 % < 35,9 %
Manajemen
100 aspek 20% > 203 % 165%-202,9% 128 % - < 128 %
(Man.umum 164,9%
& resiko)
ROA 5% > 1,215% 0,99%- 1,21 % 0,77% - 0,99% < 0,76%
ROE 5% > 1,215% 0,99 % - 1,21 % 0,77% - 0,99% < 0,76%
NPM 5% > 4,9% 3 % - 4,9 % 1,5%-2,9% < 1,5%
BOPO 5% < 93,52 % 93,53 % - 94,72 % - > 95,92%
94,72 % 95,91%
LDR 10% 50 % - 75 % 75 %- 100% 100 % - 120 % > 120 %
Call Money 5% < 19,05 % 19,06%- 34,06 % - > 49,06 %
\ 34,05 % 49,05 %
Potential 5% > 18,25% 14,25 % - 10,25%- < 10,24 %
Loss Suku 18,24% 14,24 %
Bunga
Potential 5% > 18,25% 14,25%- 10,25 % - < 10,24%
Loss Nilai 18, 24% 14,24%
Tukar
Total Persentase 100%
Sumber : www.bi.go.id
2.5.1 Peringkat Komposit Kesehatan Bank
Peringkat komposit (composite rating) adalah peringkat akhir hasil penilaian tingkat kesehatan bank. Penentuan peringkat komposit ini dilakukan dengan menetapkan peringkat setiap komponen berdasarkan perhitungan dan analisis. Perhitungann dan analisis dilakukan dengan mempertimbangakan indikator pendukung dan atau pembanding yang relevan. Kemudian berdasarkan hasil penetapan peringkat setiap faktor tersebut, ditetapkan peringkat setiap faktor. Selanjutnya, hasil penetapan faktor ditetapkan peringkat komposit yang telah ditetapkan sebagai berikut:( www.bi.go.id )
1. Peringkat Komposit 1 (PK-1) atau dipersamakan dengan Peringkat Komposit 2 (PK-2)
Mencerminkan bahwa bank tergolong sangat baik dan mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perkonomian dan industri keuangan. Selain itu, bank dalam kategori ini mampu mengatasi pengaruh negatif kondisi perkonomian dan industri keuangan, namun bank masih memiliki kelemahan-kelemahan minor /kecil yang dapat segera diatasi oleh tindakan rutin, sehinggan dikategorikan "Sehat".
2. Peringkat Komposit 3 (PK-3)
Mencerminkan bahwa bank tergolong cukup baik, namun terdapat beberapa kelemahan yang dapat menyebabkan peringkat kompositnya memburuk, yang dapat terjadi apabila bank tidak segera melaklukan tindakan korektif, sehingga dikategorikan "Cukup Sehat".
3. Peringkat Komposit 4 (PK-4)
Mencerminkan bahwa bank tergolong kurang baik dan sensitive terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan atau bank memiliki kelemahan keuangan yang serius atau kombianasi dari beberapa faktor yang tidak memuaskan. Apabila tidak dilakukan tindakan korektif yang efektif, bank akan berpotensi mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, sehingga dikategorikan "Kurang Sehat".
4. Peringkat Komposit 5 (PK-5)
Mencerminkan bahwa bank tergolong tidak baik dan sanagt sensitive terhadap pengaruh negatif kondisi perekonomian dan industri keuangan serta mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya dikarenakan kondisi bank sangatlah buruk, sehingga dikategorikan "Tidak Sehat".
2.5.2 Manfaat Kesehatan Bank
Selama ini BI telah menerapkan kerangka kebijakan moneter yang diarahkan untuk mengendalikan inflasi dan dilakukan secara transparan. Dengan demikian, ada tiga prinsip dasar penyempurnaan framework yang diumumkan, yaitu :
1) BI akan menggunakan suku bunga (BI rate) sebagai sasaran operasional menggantikan base money.
2) Kedua, kebijakan moneter dilakukan secara lebih transparan dan akuntabel
3) BI akan melakukan penguatan mekanisme perumusan dan pengambilan kebijakan moneter.
Berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Perbankan yakni bank dengan kinerja baik adalah bank-bank yang selama tiga tahun terakhir memenuhi kriteria:
(i) modal inti lebih besar dari Rp. 100 Miliar
(ii) memiliki tingkat kesehatan dengan kriteria CAMELS tergolong sehat
(sekurang-kurangnya peringkat komposit 2) dengan faktor
manajemen tergolong baik
(iii) memiliki rasio kewajiban pemenuhan modal minimum ( CAR )
(iv) memiliki tata kelola ( governance ) dengan rating yang baik.
Status Bank dengan Kinerja Baik tersebut akan dievaluasi Bank Indonesia secara berkala.
2.5.3 Perbandingan CAMEL Dengan CAMELS
Penilaian mengenai tingkat kesehatan bank dengan metode CAMEL dinilai belum dapat memberikan gambaran secara utuh tentang kondisi bank serta dianggap tidak lagi memadai untuk mengakomodasi hasil dari pengawasan berbagai resiko. Oleh sebab itu, Bank Indonesia selaku bank sentral yang berperan sebagai pengawas, pengatur dan pembina perbankan mengeluarkan Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank yang baru. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004, yaitu dengan metode CAMELS diharapkan dapat lebih melengkapi dalam penilaian kinerja dan kesehatan suatu bank.
Jika dibandingkan sistem penilaian kesehatan sebelumnya yaitu dengan metoda CAMEL, sistem yang berlaku sekarang memang lebih komprehensif, atau bisa diartikan lebih banyak komponen atau rasio-rasio yang dinilainya, termasuk penambahan komponen baru yaitu Sensitivity to market risk (S). Sebagai lembaga keuangan yang juga mengambil alih resiko dalam pengelolaan dana masyarakat, kepekaaan terhadap resiko pasar tidak bisa dipungkiri merupakan prinsip perbankan yang tidak bisa ditawar. Dengan adanya tambahan aspek yang perlu diperhitungkan berdasarkan metode terbaru sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004, maka dihampakan penilaian mengenai kesehatan suatu bank dapat dinilai lebih lengkap dan menyeluruh. Berikut ini adalah kekurangan dari metode CAMEL yaitu :
a. Misleading
Tingkat kesehatan bank yang dikuantifikasikan dengan menggunakan metode CAMEL cenderung memberikan gambaran yang keliru (misleading) terhadap kondisi suatu bank
b. Historical Figure
Penilain tingkat kesehatan bank digunakan dalam penilaian ini dirasa kurang memadai, sehingga kurang menggambarkan kualitas dari faktor yang dinilai. Penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan metode CAMEL yang meliputi lima aspek, yaitu sebagai berikut : Permodalan (Capital), Kekayaan (Asset), Manajemen (Management), Rentabilitas (Earnings) serta Likuiditas (Liquidity) dirasa masih kurang lengkap untuk menilai kinerja bank, sehingga Bank Indonesia mengeluarkan penilaian tingkat kesehatan bank yang baru sesuai Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004, dengan penambahan aspek Sensitivitas terhadap Resiko Pasar (Sensitivity to Market Risk).
2.5 Penelitian sejenis
Adapun penelitian sejenis yaitu dengan judul : Analisa Tingkat Kesehatan Bank Pada PT. Bank Mandiri ( persero ), Tbk. Pengarang : Nur Maemunah Permata Sari, pada tahun 2008.
Variabel yang digunakan yaitu variabel yang digunakan peneliti untuk penelitian ini adalah berdasarkan perhitungan CAMELS, yaitu Capital (permodalan), Assets (aktiva produktif), Management (Manajemen), Earnings (rentabilitas), Liquidity (tingkat likuiditas), dan Sensitivity to Market Risk (sensitivitas terhadap resiko pasar). Objek yang diteliti adalah PT. Bank Mandiri ( persero ), Tbk. Hasil penelitiannya adalah predikat kesehatan PT. Bank Mandiri ( persero ), Tbk pada tahun 2005 dikatakan SEHAT dengan 95%, pada tahun 2006 dapat dikatakan SEHAT juga dengan persentase 95%, dan pada tahun 2007, PT. Bank Mandiri ( persero ), Tbk dikatakan SEHAT dengan persentase lebih baik dari tahun sebelumnya yaitu 100%.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti akan mengadakan penelitian pada PT. Bank Mandiri Tbk, yang beralamat di JL. Jendral Gatot Subroto kav. 36-38, Jakarta Telp. (021) 5245006, 5245858, 5245849.
3.2 Data / Variabel yang Digunakan
a. Data
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder, yang didapat tidak secara langsung, melainkan didapat dari situs www.bankmandiri.co.id dan www.bi.go.id dimana data tersebut berupa laporan keuangan PT. Bank Mandiri (persero), Tbk pada tahun 2008 - 2009 yang terdiri dari :
a) Laporan Neraca tahun 2008 dan 2009
b) Laporan Laba Rugi tahun 2008 dan 2009
c) Laporan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) tahun 2008 dan 2009
d) Kualitas Aktiva Produktif tahun 2008 dan 2009
e) Transaksi Valuta Asing dan Derivatif tahun 2008 dan 2009
b.Variabel
Variabel yang digunakan peneliti untuk penelitian ini adalah berdasarkan perhitungan CAMELS, yaitu Capital (permodalan), Assets (aktiva produktif), Management (Manajemen), Earnings (rentabilitas), Liquidity (tingkat likuiditas), dan Sensitivity to Market Risk (sensitivitas terhadap resiko pasar).
3.3 Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akan digunakan dalam peneliti ilmiah ini, peneliti menggunakan Metode Dokumentasi. Metode Dokumentasi adalah mencari dan menelaah referensi yang berasal dari buku-buku, catatan-catatan materi atau penelitian ilmiah lainnya yang dapat membantu peneliti dalam menyusun penelitian ilmiah ini. Serta sumber yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang bersumber dari internet sebagai berikut :
a. Data Kualitatif
Data ini berkaitan dengan penjelasan mengenai gambaran umum perusahaan, visi dan misinya PT. Bank Mandiri (persero), Tbk.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yang diperoleh adalah peneliti menggunakan data-data yang dibutukhan dari laporan keuangan PT.Bank Mandiri Tbk, yang terdiri dari laporan Laba/Rugi, laporan neraca, laporan kewajiban penyediaan modal minimum ( KPMM ), laporan kualitas aktiva produktif, serta transaksi valuta asing dan derivatif pada tahun 2008 - 2009.
3.4 Alat Analisa yang Digunakan
Alat analisa yang digunakan dalam penelitian ilmiah ini meliputi enam aspek berdasarkan perhitungan CAMELS, yaitu :
3.4.1 Capital
a. CAR ( Capital Adequacy Ratio )
Modal Bank
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
3.4.2 Asset
a. KAP ( Kualitas Aktiva Produktif ) atau BDR ( Bad Debt Ratio )
Jumlah aktiva produk yang diklasifikasikan
Jumlah Aktiva Produktif
atau
25% DPK + 50% KL + 75% D + 100% M
Jumlah Aktiva Produktif
b. PPAP (Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif)
Jumlah PPAP Yang Telah Dibentuk
Jumlah PPAP Yang Wajib Dibentuk
3.4.3 Managemen ( manajemen )
3.4.4 Earnings
a. ROA ( Return On Assets)
Laba Sebelum Pajak
Total Aktiva
b. ROE ( Return On Earning)
Laba Bersih
Modal Sendiri
c. NPM ( Net Profit Margin )
Laba Bersih
Pendapatan Operasional
d. BOPO ( Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional )
Biaya Operasional
Pendapatan Operasional
3.4.5 Liquidity ( Likuiditas )
a. LDR ( Loan to Deposit Ratio )
Jumlah Kredit yang Diberikan
Dana yang Diterima
b. Call Money
Kewajiban Bersih Call money
Modal Inti
3.4.6 Sensitivy To Market Risk ( Sensitivitas Terhadap Risko Pasar )
a. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku
bungan dibandingkan dengan potensial loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga, yaitu :
Ekses Modal
Potential Loss Nilai Tukar
b. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) nilai tukar, yaitu :
Ekses Modal
Potential Loss Nilai Tukar
c. Kecukupan penerapan sistem manajemen risiko pasar masih berhubungan dengan penilaian aspek manajemen, diantaranya meliputi:
a) Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi Bank terhadap potensi
eksposure resiko pasar
b) Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, pengendalian risiko pasar serta sistem informasi manajemen resiko pasar
c) Efektivitas pelaksanaan pengendalian intern (internal control) terhadap eksposure resiko pasar, termasuk kecukupan fungsi audit intern
DAFTAR PUSTAKA
Dendrawijaya, Lukman.2003. Manajemen Perbankan. Jakarta : Ghalia indonesia
Firdaus,Yoga dkk. 2005. Pengantar Akuntansi. Jakarta : PT. gramedia Pustaka Utama
Hery, 2009. Laporan Keuangan. Jakarta: PT. gramedia Pustaka Utama
Kasmir, 2000. Manajemen Perbankan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
S.Munawir. 1995. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
Siaman, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan, edisi ke-5. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
.Tim Abdi Guru . 2005. Pengantar Ekonomi SMA. Jakarta: PT. gramedia Pustaka Utama
Triandaru, Sigit dan Totok Budisantoso. 2006. Bank Dan Lembaga Keuangan Lain, edisi ke-2. Jakarta : Salemba Empat
www.bankmandiri.go.id
www.bi.go.id
TUGAS PROPOSAL
RISET AKUNTANSI
(SOFTSKILL)
NAMA : WENI SONDARI WANGI
NPM : 21207156
KELAS : 3EB03
UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS EKONOMI
2007
Jumat, 02 April 2010
alasan mengambil judul Penulisan Ilmiah tentang CAMELS
tingkat kesehatan suatu bank menjadi tolak ukur kinerja keuangan yang sangat penting, karena sehat atau tidaknya suatu perbankan akan sangat mempengaruhi suatu perekonomian suatu negara. standar penilaian kesehatan suatu bank ditetapkan secara internasional dan diawasi secara ketat oleh bank sentral dinegara masing-masing, seperti dinegara Indonesia yang berperan sebagai bank sentral adalah Bank Indonesia.
tingkat kesehatan suatu bank dapat dianalisis dengan menggunakan metode CAMELS ( Capital,Assets, Management, Earning, Liquidity and Sensitivity to market risk ).
berdasarkan sedikit uraian diatas, saya memilih untuk membuat suatu penulisan ilmiah TENTANG TINGKAT KESEHATAN SUATU PERBANKAN DENGAN METODE CAMELS.
Minggu, 14 Maret 2010
max weber
MAX WEBER
Maximilian Weber (lahir di Erfurt, Jerman, 21 April 1864 – meninggal di München, Jerman, 14 Juni 1920 pada umur 56 tahun) adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu alasan utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur. Dalam karyanya yang terkenal lainnya, Politik sebagai Panggilan, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definisi yang menjadi penting dalam studi tentang ilmu politik Barat modern.
Sosiologi agama
Karya Weber dalam sosiologi agama bermula dari esai Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme dan berlanjut dengan analisis Agama Tiongkok: Konfusianisme dan Taoisme, Agama India: Sosiologi Hindu dan Buddha, dan Yudaisme Kuno. Karyanya tentang agama-agama lain terhenti oleh kematiannya yang mendadak pada 1920, hingga ia tidak dapat melanjutkan penelitiannya tentang Yudaisme Kuno dengan penelitian-penelitian tentang Mazmur, Kitab Yakub, Yahudi Talmudi, Kekristenan awal dan Islam.
Tiga tema utamanya adalah efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama, dan pembedaan karakteristik budaya Barat.
Tujuannya adalah untuk menemukan alasan-alasan mengapa budaya Barat dan Timur berkembang mengikuti jalur yang berbeda. Dalam analisis terhadap temuannya, Weber berpendapat bahwa pemikiran agama Puritan (dan lebih luas lagi, Kristen) memiliki dampak besar dalam perkembangan sistem ekonomi Eropa dan Amerika Serikat, tapi juga mencatat bahwa hal-hal tersebut bukan satu-satunya faktor dalam perkembangan tersebut. Faktor-faktor penting lain yang dicatat oleh Weber termasuk rasionalisme terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Pada akhirnya, studi tentang sosiologi agama, menurut Weber, semata-mata hanyalah meneliti meneliti satu fase emansipasi dari magi, yakni "pembebasan dunia dari pesona" ("disenchanment of the world") yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang penting dari budaya Barat.
Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme
Sampul salah satu edisi The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.
Esai Weber Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (Die protestantische Ethik und der Geist des Kapitalismus) adalah karyanya yang paling terkenal. Dikatakan bahwa tulisannya ini tidak boleh dipandang sebagai sebuah penelitian mendetail terhadap Protestanisme, melainkan lebih sebagai perkenalan terhadap karya-karya Weber selanjutnya, terutama penelitiannya tentang interaksi antara berbagai gagasan agama dan perilaku ekonomi.
Dalam Etika Protestan dan Semangant Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan pemikiran Puritan mempengaruhi perkembangan kapitalisme. Bakti keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan duniawi, termasuk pengejaran ekonomi. Mengapa hal ini tidak terjadi dalam Protestanisme? Weber menjelaskan paradoks tersebut dalam esainya.
Ia mendefinisikan "semangat kapitalisme" sebagai gagasan dan kebiasaan yang mendukung pengejaran yang rasional terhadap keuntungan ekonomi. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidak terbatas pada budaya Barat, apabila dipertimbangkan sebagai sikap individual, tetapi bahwa individu-individu seperti itu -- para wiraswasta yang heroik, begitu Weber menyebut mereka -- tidak dapat dengan sendirinya membangun sebuah tatanan ekonomi yang baru (pelacur). Di antara kecenderungan-kecenderungan yang diidentifikasikan oleh Weber adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimum, gagasan bahwa kerja adalah kutuk dan beban yang harus dihindari, khususnya apabila hal itu melampaui apa yang secukupnya dibutuhkan untuk hidup yang sederhana. "Agar suatu cara hidup yang teradaptasi dengan baik dengan ciri-ciri khusus kapitalisme," demikian Weber menulis, "dapat mendominasi yang lainnya, hidup itu harus dimulai di suatu tempat, dan bukan dalam diri individu yang terisolasi semata, melainkan sebagai suatu cara hidup yang lazim bagi keseluruhan kelompok manusia."
Setelah mendefinisikan semangat kapitalisme, Weber berpendapat bahwa ada banyak alasan untuk mencari asal-usulnya di dalam gagasan-gagasan keagamaan dari Reformasi. Banyak pengamat seperti William Petty, Montesquieu, Henry Thomas Buckle, John Keats, dan lain-lainnya yang telah berkomentar tentang hubungan yang dekat antara Protestanisme dengan perkembangan semangat perdagangan.
Weber menunjukkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran rasional akan keuntungan ekonomi dan aktivitas duniawi yang telah diberikan arti rohani dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari ide-ide keagamaan, melainkan lebih merupakan sebuah produk sampingan – logika turunan dari doktrin-doktrin tersebut dan saran yang didasarkan pada pemikiran mereka yang secara langsung dan tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalan-diri dalam pengejaran keuntungan ekonomi.
Weber menyatakan dia menghentikan riset tentang Protestanisme karena koleganya Ernst Troeltsch, seorang teolog profesional, telah memulai penulisan buku The Social Teachings of the Christian Churches and Sects. Alasan lainnya adalah esai tersebut telah menyediakan perspektif untuk perbandingan yang luas bagi agama dan masyarakat, yang dilanjutkannya kelak dalam karya-karyanya berikutnya.
Frase "etika kerja" yang digunakan dalam komentar modern adalah turunan dari "etika Protestan" yang dibahas oleh Weber. Istilah ini diambil ketika gagasan tentang etika Protestan digeneralisasikan terhadap orang Jepang, orang Yahudi, dan orang-orang non-Kristen.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Maximilian_Weber
Pendapat tentang Max Weber.
didalam sejarah ahli filsuf dunia banyak sekali para ahli filsuf yang sangat terkenal dan disegani oleh masyarakat.karena karya-karyanya yang sangat bagus dan menjadi pedoman bagi sebagian masyarakat.
salah satunya adalah Max Weber. max weber adalah salah satu ahli filsuf dunia yang sudah tidak asing lagi ditelinga/didengar oleh masyarakat,karena karya-karya nya yang sangat popular baik dalam bidang ekonomi politik, sosiologi dan administrasi negara modern. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi.
prestasi max weber tidak diragukan lagi, diJerman max weber dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern.
banyak sekali karya-karya popular max weber, namun karena kematiannya yang mendadak pada 1920, hingga ia tidak dapat melanjutkan penelitiannya.
Kamis, 04 Maret 2010
Tugas Softskill kelompok
March 4, 2010 - Posted by ds_putry
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah Standar, [1] Interpretasi dan Kerangka [2] [3] yang diadopsi oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB).
Many of the standards forming part of IFRS are known by the older name of International Accounting Standards (IAS). Banyak membentuk bagian dari standar IFRS yang dikenal dengan nama yang lebih tua Standar Akuntansi Internasional (IAS). IAS were issued between 1973 and 2001 by the Board of the International Accounting Standards Committee (IASC). IAS yang diterbitkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh Dewan Komite Standar Akuntansi Internasional (IASC). On 1 April 2001, the new IASB took over from the IASC the responsibility for setting International Accounting Standards. Pada tanggal 1 April 2001, yang baru mengambil alih IASB dari IASC tanggung jawab untuk menetapkan Standar Akuntansi Internasional. During its first meeting the new Board adopted existing IAS and SICs. Selama pertemuan pertama Dewan baru diadopsi IAS dan SICs yang ada. The IASB has continued to develop standards calling the new standards IFRS. Yang IASB terus mengembangkan memanggil standar IFRS standar-standar baru. Struktur IFRS
IFRS are considered a “principles based” set of standards in that they establish broad rules as well as dictating specific treatments. IFRS dianggap sebagai “berdasarkan prinsip” set standar dalam bahwa mereka menetapkan aturan-aturan yang luas serta mendikte perawatan khusus.
International Financial Reporting Standards comprise: Standar Pelaporan Keuangan Internasional terdiri dari:
* International Financial Reporting Standards (IFRS) - standards issued after 2001 Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) - standar yang dikeluarkan setelah tahun 2001
* International Accounting Standards (IAS) - standards issued before 2001 Standar Akuntansi Internasional (IAS) - standar yang dikeluarkan sebelum 2001
* Interpretations originated from the International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) - issued after 2001 Penafsiran berasal dari International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) - yang dikeluarkan setelah 2001
* Standing Interpretations Committee (SIC) - issued before 2001 Standing Interpretations Committee (SIC) - yang dikeluarkan sebelum 2001
There is also a Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements which describes the principles underlying IFRS… Ada juga Kerangka Persiapan dan Penyajian Laporan Keuangan yang menggambarkan prinsip-prinsip yang mendasari IFRS …
IAS 8 Par. IAS 8 Par. 11 11
“In making the judgement described in paragraph 10, management shall refer to, and consider the applicability of, the following sources in descending order: “Dalam membuat penilaian yang dijelaskan dalam ayat 10, manajemen akan merujuk kepada, dan mempertimbangkan penerapan, sumber-sumber berikut dalam urutan:
(a) the requirements and guidance in Standards and Interpretations dealing with similar and related issues; and (a) persyaratan dan bimbingan dalam Standar dan interpretasi yang sama dan menghadapi isu-isu yang terkait dan
(b) the definitions, recognition criteria and measurement concepts for assets, liabilities, income and expenses in the Framework .” (b) definisi, kriteria pengakuan dan pengukuran konsep-konsep untuk aset, kewajiban, pendapatan dan pengeluaran dalam Framework. ”
Persyaratan IFRS
IFRS laporan keuangan terdiri dari (IAS1.8)
* a Statement of Financial Position yang Pernyataan Posisi Keuangan
* a comprehensive income statement yang komprehensif laporan laba rugi
* either a statement of changes in equity (SOCE) or a statement of recognised income or expense (“SORIE”) baik pernyataan perubahan ekuitas (SOCE) atau pernyataan pendapatan atau biaya diakui ( “SORIE”)
* a cash flow statement or statement of cash flows sebuah pernyataan arus kas atau laporan arus kas
* notes, including a summary of the significant accounting policies catatan, termasuk ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan
Comparative information is provided for the previous reporting period (IAS 1.36). Informasi komparatif diberikan untuk periode pelaporan sebelumnya (IAS 1,36). An entity preparing IFRS accounts for the first time must apply IFRS in full for the current and comparative period although there are transitional exemptions (IFRS1.7). Sebuah entitas mempersiapkan rekening IFRS untuk pertama kalinya harus menerapkan IFRS secara penuh untuk saat ini dan periode perbandingan peralihan walaupun ada pengecualian (IFRS1.7).
On 6 September 2007, the IASB issued a revised IAS 1 Presentation of Financial Statements. Tanggal 6 September 2007, IASB menerbitkan revisi IAS 1 Penyajian Laporan Keuangan. The main changes from the previous version are to require that an entity must: Utama perubahan dari versi sebelumnya adalah untuk mensyaratkan bahwa suatu entitas harus:
* present all non-owner changes in equity (that is, ‘comprehensive income’ ) either in one statement of comprehensive income or in two statements (a separate income statement and a statement of comprehensive income). sekarang semua pemilik non-perubahan ekuitas (yaitu, ‘pendapatan komprehensif’) baik dalam satu pernyataan yang komprehensif pendapatan atau dalam dua pernyataan (pernyataan pendapatan yang terpisah dan pernyataan pendapatan komprehensif). Components of comprehensive income may not be presented in the statement of changes in equity. Komponen dari pendapatan komprehensif tidak dapat disajikan dalam laporan perubahan ekuitas.
* present a statement of financial position (balance sheet) as at the beginning of the earliest comparative period in a complete set of financial statements when the entity applies an accounting menyajikan laporan posisi keuangan (neraca) seperti pada awal periode komparatif paling awal dalam satu set lengkap laporan keuangan ketika berlaku entitas akuntansi
* ‘balance sheet’ will become ’statement of financial position’ ‘neraca’ akan menjadi ‘pernyataan posisi keuangan’
* ‘income statement’ will become ’statement of comprehensive income’ ‘laba rugi’ akan menjadi ‘pernyataan dari pendapatan komprehensif’
* ‘cash flow statement’ will become ’statement of cash flows’. ‘pernyataan arus kas’ akan menjadi ‘pernyataan arus kas’.
The revised IAS 1 is effective for annual periods beginning on or after 1 January 2009. Revisi IAS 1 adalah efektif untuk periode tahunan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Early adoption is permitted. Adopsi awal diperbolehkan.
Adopsi IFRS
IFRS are used in many parts of the world, including the European Union , Hong Kong, Australia, Malaysia , Pakistan , GCC countries , Russia, South Africa, Singapore and Turkey . IFRS digunakan di banyak bagian dunia, termasuk Uni Eropa, Hong Kong, Australia, Malaysia, Pakistan, negara-negara GCC, Rusia, Afrika Selatan, Singapura, dan Turki. As of 27 August 2008, more than 113 countries around the world, including all of Europe, currently require or permit IFRS reporting. Sebagai dari 27 September 2008, lebih dari 113 negara di seluruh dunia, termasuk seluruh Eropa, saat ini membutuhkan atau mengizinkan IFRS pelaporan. Approximately 85 of those countries require IFRS reporting for all domestic, listed companies. [ 7 ] Sekitar 85 dari negara-negara tersebut memerlukan pelaporan IFRS untuk semua domestik, perusahaan-perusahaan yang terdaftar. [7]
Tujuan
IFRS 1 First-time Adoption of International Financial Reporting Standards sets out the procedures that an entity must follow when it adopts IFRSs for the first time as the basis for preparing its general purpose financial statements. IFRS 1 First-time Adopsi Standar Pelaporan Keuangan Internasional menetapkan prosedur bahwa suatu entitas harus ikuti ketika mengadopsi IFRSs untuk pertama kali sebagai dasar untuk mempersiapkan tujuan umum laporan keuangan. Sumber :http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/International_Financial_Reporting_Standards&ei=G3qPS8zcDJLHrAeR9JyNCw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CB8Q7gEwAg&prev=/search%3Fq%3Difrs%26num%3D30%26hl%3Did%26newwindow%3D1%26client%3Dfirefox-a%26sa%3DN%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/International_Financial_Reporting_Standards&ei=G3qPS8zcDJLHrAeR9JyNCw&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=3&ved=0CB8Q7gEwAg&prev=/search%3Fq%3Difrs%26num%3D30%26hl%3Did%26newwindow%3D1%26client%3Dfirefox-a%26sa%3DN%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official
IFRS: Flows of Things Kapitalisme
Dasar dari penerapan IFRS sebenarnya adalah masuknya siapapun yang mengadopsi IFRS dalam globalisasi liberalisasi financial market dan harmonisasi standar akuntansi dalam mendorong tersebarnya pada praktik secara umum. Merujuk pemikiran Burchell et al. (1980) seperti diungkapkan kembali oleh Graham dan Neu (2003) bahwa akuntansi termasuk di dalamnya IFRS sebagai implementasi riilnya digunakan atau untuk melayani dua kepentingan, kompleksitas internal organisasi dan praktik sosial lebih luas. Mekanisme seperti itu berdampak pada penyebaran perubahan akuntansi, berupa teknologi akuntansi, hubungannya dengan kepentingan organisasi menjadi organisasi supranasional atau transnasional (MNC’s). Penyesuaian teknologi akuntansi dalam praktik organisasi supranasional melayani tujuan yang sama dengan organisasi konvensional, tetapi berbeda mekanismenya yaitu melakukan aktivitas yang dinamakan “aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu” (cross-border flows beyond time and space), seperti aliran modal, produk, informasi, kebijakan dan orang.
Akuntansi untuk aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu menciptakan bentuk sesuai perbedaan sosial yang melampaui simbol dan mitos. Perbedaan sosial berkaitan dengan asimetri kekayaan (wealth) dan kekuasaan (power) yang eksis di berbagai wilayah secara internasional. Hasil teknologi akuntansinya dalam organisasi supranational membantu menciptakan dan menyeimbangkan kondisi ketidakstabilan antara pusat dan pinggiran, antara non-majority world dan majority world. Graham dan Neu (2003) melihat bahwa teknologi dan praktik akuntansi yang dijalankan MNC’s ternyata bukan hanya melakukan tata kelola aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu saja, tetapi mereka menyodorkan “praktik standarisasi” lintas batas. Lebih jauh, desakan standarisasi ternyata bermuatan ekonomi politik untuk kepentingan MNC’s mempergunakan berbagai institusinya.
Tabel Flows of ‘Things’
flows
Sumber: Graham dan Neu (2003, 454) dimodifikasi
Salah satu kepentingan IFRS dapat dilihat dari dampaknya setelah diterapkan adalah untuk kepentingan kepastian aliran atau arus kas perusahaan “bermain monopoli” di berbagai flows of things. Ujung-ujungnya adalah dijalankannya “permainan monopoli” dengan laporan arus kas sebagai alat bantu pemetaan kekuatan keuangan perusahaan untuk mengantisipasi “dadu mesin” dari bursa saham yang disebut Electronically Operated Global Casino (Casino Global Elektronik), atau dalam bahasa Castells disebut sebagai Automaton (Capra 2003, 120). Automaton menurut Castells adalah ciptaan inti ekonomi hasil proses globalisasi keuangan yang secara tegas mengatur kehidupan manusia. Bukan robot-robot yang menghilangkan lapangan kerja atau komputer-komputer pemerintah, tetapi mesin-mesin globalisasi berbentuk transaksi keuangan elektroniklah yang mengambil alih dunia manusia. Logika automaton bukanlah aturan-aturan pasar tradisional, dinamika aliran keuangan yang digerakkannya saat ini di luar kendali-kendali pemerintahan negara, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan. Akan tetapi pada keluwesan dan ketepatan teknologi informasi dan komunikasi baru, regulasi ekonomi global yang efektif secara teknis menjadi masuk akal.
sumber :http://ajidedim.wordpress.com/2009/11/08/ifrs-sekularisasi-dan-neoliberalisme-akuntansi-bagian-1/
oleh: Aji Dedi Mulawarman
kelompok :
Desi Silviana Eka Putri 20207287
Weni Sondari Wangi 21207156
tugas sobskill
desi silviana eka putri (20207287)
weni sondari wangi (21207156)
IFRS: Flows of Things Kapitalisme
Dasar dari penerapan IFRS sebenarnya adalah masuknya siapapun yang mengadopsi IFRS dalam globalisasi liberalisasi financial market dan harmonisasi standar akuntansi dalam mendorong tersebarnya pada praktik secara umum. Merujuk pemikiran Burchell et al. (1980) seperti diungkapkan kembali oleh Graham dan Neu (2003) bahwa akuntansi termasuk di dalamnya IFRS sebagai implementasi riilnya digunakan atau untuk melayani dua kepentingan, kompleksitas internal organisasi dan praktik sosial lebih luas. Mekanisme seperti itu berdampak pada penyebaran perubahan akuntansi, berupa teknologi akuntansi, hubungannya dengan kepentingan organisasi menjadi organisasi supranasional atau transnasional (MNC’s). Penyesuaian teknologi akuntansi dalam praktik organisasi supranasional melayani tujuan yang sama dengan organisasi konvensional, tetapi berbeda mekanismenya yaitu melakukan aktivitas yang dinamakan “aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu” (cross-border flows beyond time and space), seperti aliran modal, produk, informasi, kebijakan dan orang.
Akuntansi untuk aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu menciptakan bentuk sesuai perbedaan sosial yang melampaui simbol dan mitos. Perbedaan sosial berkaitan dengan asimetri kekayaan (wealth) dan kekuasaan (power) yang eksis di berbagai wilayah secara internasional. Hasil teknologi akuntansinya dalam organisasi supranational membantu menciptakan dan menyeimbangkan kondisi ketidakstabilan antara pusat dan pinggiran, antara non-majority world dan majority world. Graham dan Neu (2003) melihat bahwa teknologi dan praktik akuntansi yang dijalankan MNC’s ternyata bukan hanya melakukan tata kelola aliran lintas batas melampaui ruang dan waktu saja, tetapi mereka menyodorkan “praktik standarisasi” lintas batas. Lebih jauh, desakan standarisasi ternyata bermuatan ekonomi politik untuk kepentingan MNC’s mempergunakan berbagai institusinya.
Tabel Flows of ‘Things’
flows
Sumber: Graham dan Neu (2003, 454) dimodifikasi
Salah satu kepentingan IFRS dapat dilihat dari dampaknya setelah diterapkan adalah untuk kepentingan kepastian aliran atau arus kas perusahaan “bermain monopoli” di berbagai flows of things. Ujung-ujungnya adalah dijalankannya “permainan monopoli” dengan laporan arus kas sebagai alat bantu pemetaan kekuatan keuangan perusahaan untuk mengantisipasi “dadu mesin” dari bursa saham yang disebut Electronically Operated Global Casino (Casino Global Elektronik), atau dalam bahasa Castells disebut sebagai Automaton (Capra 2003, 120). Automaton menurut Castells adalah ciptaan inti ekonomi hasil proses globalisasi keuangan yang secara tegas mengatur kehidupan manusia. Bukan robot-robot yang menghilangkan lapangan kerja atau komputer-komputer pemerintah, tetapi mesin-mesin globalisasi berbentuk transaksi keuangan elektroniklah yang mengambil alih dunia manusia. Logika automaton bukanlah aturan-aturan pasar tradisional, dinamika aliran keuangan yang digerakkannya saat ini di luar kendali-kendali pemerintahan negara, perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan. Akan tetapi pada keluwesan dan ketepatan teknologi informasi dan komunikasi baru, regulasi ekonomi global yang efektif secara teknis menjadi masuk akal.
sumber :http://ajidedim.wordpress.com/2009/11/08/ifrs-sekularisasi-dan-neoliberalisme-akuntansi-bagian-1/
oleh: Aji Dedi Mulawarman
Minggu, 21 Februari 2010
dimana kita berada
tampak terlihat dua pesona,
menawarkan cinta dan tawa,
menawarkan suka dan cita rasa,
indah surgawi Tuhan janjikan,
berbekal ketaatan dan kepatuhan,
namun terkadang tipu daya cinta,
datang menyesatkan karena ketidak puasan,
ternyata kesenangan pun kita ingkari,
hingga kita terjebak janji-janji,
seperti adam & hawa disurgawi,
terpaksa terusir turun keduniawi,
sahabat dan kawan sejati,
dimana kita berada kini,
masihkan dalam jalan illahi,
atau masuk dalam lubang api,
sahabat..................
dimana kita berada.
masalah.......
hati ini tak terkendali,
menyesali,merenungi yang telah terjadi,
semua terasa mimpi,
mimpi yang berakhir seperti misteri,
yang datang dan pergi sesuka hati,
yang tak kunjung berhenti,sampai hembusan nafas terakhir.
ketika amarah menjadi penghalang,
masalah yang kunjung datang,
yang ada hanya kebencian yang menghadang,
rasa cinta dan sayang akan hilang,
yang tersisa hanya rasa bimbang.
puisi(kata hati)
bimbang yang mendekam dihati,
cinta yang tak akan bisa ku bagi,
perasaan yang pilu menyelimuti,
rindu yang tak akan hilang dibenakku kini,
kata hati....
kadang membuat kacau hati ini,
memilih antara kau dan dia kini,
pilu yang terasa dihati saat ini,
permasalahan ini tak kunjung berhenti,
masalah yang selalu ada dihati,
fikiran yang kacau ini,
bila memikirkan permasalah ini,
bimbang, kacau, rasa bersalah yang kurasa saat ini,
senang dan rindu datang pula menghampiri,
aku tak percaya dengan perasaanku ini,
apakah aku harus mengikuti kata hati ini......?????
resep makanan
bahan :
- 250g mi kuning basah,bilas air hangat,tiriskan.
- 1/2 ikat kangkung,petik daunnya.
- 50g taoge,seduh.
- 1 buah tahu goreng,potong dadu.
- 150g udang segar.
- 50 ml santan kental dari 1/4 butir kelapa.
- 500 ml air.
- 1 sdm tepung terigu,larutkan dengan 2 sdm iar.
- 1 batang seledri,simpulkan.
- 1/2 cm jahe,memarkan.
- 1 sdm minyak,untuk menumis.
- bawang putih secukupnya digoreng dan irisan kucai,untuk taburan.
- 1 bungkus masako sapi.
bumbu yang dihaluskan :
- 3 butir bawang merah
- 2 siung bawang putih.
- 1/2 sdt merica.
cara membuat :
- didihkan air,masukkan udang,daun seledri,dan jahe.rebus diatas api kecil hingga udang matang.kupasudang,sisihkan.
- tumis bumbu halus hingga harum. tambahkan udang,air rebusan,santan,larutan terigu dan masako.aduk hingga mendidih dan kuah agak mengental.
- atur mi,taoge,kangkung dan tahu dalam mangkuk.siram dengan kuah.taburi bawang goreng dan kucai.
- sajikan
* untuk 2 orang
diambil dari " resep masako "
Kamis, 18 Februari 2010
WHY ........?????
oh my God .....
why all be like this ?????
started from a good meeting and later became close friends.
establish a friendly long, I think it will end a beautiful, become true friends.
but .....
why are all turned from the fact that there was originally.
friends should be there in hard or happy.
Why all is not so, the fact that there turned.
whether there is someone in this world who will never get true friends ??????
live in solitude .....
not some company ......
if it ends like this ,.....
why have a meeting until the establishment of friendship,
giving hope that there are true friends,
accompanied, maintain, mutual understanding among the others.
protecting his best friend is in problem ...........
why .................????????????
tips mencari kos
1. yang paling terpenting,cari tempat kos yang penghuninya sejenis (kelamin) sama dengan kamu agar ada rasa aman dan tenang.
2. pemilik rumah usahakan seagama dengan kamu agar dapat beribadah dengan leluasa dan tenang.
3. kalau bisa dekat dengan yang punya kos,agar kalau ada sesuatu atau membutuhkan sesuatu kamu dapat minta tolong.
4. pilih yang sesuai dengan kondisi keuangan kamu.tidak usah mewah,yang penting rasa aman dan nyaman.
5. cari tempat kos yang jaraknya dekat dengan kampus,kalau jauh dari kampus sama saja ada pengeluaran lebih,contohnya untuk transportasi(pengalaman pribadi).
6. kalau kos jauh jaraknya dari rumah bapak/ibu kos,usahakan ada penjaga kos yang menjaga keamanan dan dapat membantu jika ada kesulitan dalam kos.
demikianlah tips dari aku,semoga bermanfaat........
Sabtu, 13 Februari 2010
jujur.........
berjuang demi cinta.....
bukanlah hal yang gampang....
namun............
kejujuranlah yang bisa membuat cinta dapat bertahan....
Senin, 04 Januari 2010
criteria ideal man is there for one day
I have some criteria for the man who will stand by me later on, including:
1. faith (one religion and a belief the same way)
2. love with me and my family.
3. I accept what they are, either from lack or strong points.
4. patient, understanding and attention. because of the nature I am a stubborn, I need someone who can soften me with his love.
5. have worked and still work, already well established, independent with parents and families.
6. wise man. in touch man who is usually used as guidelines by the women, so the wise man who can take a wise decision.
good experiences and bad experiences
good experience I've ever experienced so far is when the days of high school. time was very exciting, because many of my friends, teachers who were very nice and loves me. the teachers who always gives us the knowledge to teach with patience. for me when I was at school, their teachers as substitute parents for me and my friends. of course when we got home from school, parents at home as we are the role models in schools.we feel the warmth, the nature of the strict father and mother were teachers like our parents at home. We feel happy because they consider us as their children, not as students or those students who must be firm in conveying something much less related to the lesson. We respect each other, both between the teacher or with friends. kinship way like this makes me the spirit to go to school, they like the energy, strength for me to run my days at that time.
bad experiences I've ever experienced was when a time like this, I was in college that the university's long distance to my house. I had to get up early in the morning to get ready to go to college. sometimes I'd forgotten to schedule me for breakfast when I woke up from the bed, which is in my mind whether I would be late coming campus? and if I do not have transportation problems?
I was in college in the area precisely Jakarta Jakarta, while I live in bogor. I transfortasi tool everyday day I had to take a train full of passengers, sometimes past the limits of passengers in one car I train.go a lot of people who want to go to work area Jakarta, and when I came to college, too many people who bekerja. I came home after school until my body felt tired and sore. my clothes are neat and fragrant hair becomes dull and disorganized mess, like someone who woke up. it's all a result of the fire train urge passengers.
Divorce problem parents
For many people, divorce of parents stuck turning point in his life. Suddenly life changed drastically. Many things have to be adjusted and updated. It will drain energy and considerable thought. The problem is what happened in my family. Simple family, full of warmth and affection, but now changed, it was a dream for me and my sister.
Mama who was treated improperly by Papa, do not be shy again become a widow. Problem can be resolved peacefully, but now ends in divorce my parents. They are selfish, we never thought of her children, who are in themselves only problem and he respectively. Which received the impact of that decision, of course I and my sister.
My brother and I could only silence, crying, wondering how our lives next, and to how we now?. At that time I was 10 years old sister and 8 years. we heard only screams and the sound of crying mother, who looks just anger papa and mama, who was crying.
There are many reasons why my parents divorced. Partly because of the many problems, namely the affair because they feel no longer able to live together in harmony. My parents separated because there is a discrepancy which gradually widened over time with.
Since they divorced I had a feeling that, My emotions will change over time. I felt angry, hopeless, and sad. In fact, I defend and blame one of them as the cause of the situation. My brother and I feel wasted, scared, worried. My parents divorce affect everyday life. I had to make some changes, like changing schools, making time for both parents separately.
Sabtu, 26 Desember 2009
PLACES PAFORIT
PLACES PAFORIT
Introduce my name is Weni Sondari Wangi,everyday is college, I now blame a university lecture Private area Jakarta, precisely the regions Depok.majoring Accounting, now I've 5. longer term there will be a Final Examination Semester (UAS). Bogor area I live, every day I have a special transportation, cheap, fast, no problems as other public transportation is transportation kemacetan. I University is train there are some constraints in this transport is often no technical problems such as cable broken electrical, safety signals that sometimes irregular, even vulnerable by the thieves.
Paforit I have a place not far from their homes.I am loved the landscape, especially areas persawahan. my heart was sad, feeling confused, all the existing problems would disappear if I were in the middle of the green tree, lonely, lonely, which was only accompanied by gusts of wind peace and watching blue sky and give thanks for favors granted GOD Almighty, Admiring all His creation that was very beautiful of the Universe and pour all your feelings, heart, problems, love and grief that I experienced in life is also .I get inspiration day to come to this place.
Traditional areas, rural areas, far from pollution, and the routine day-to-face rare day modern like this, let alone the capital area, this bias Jakarta. inspire you to try to be loving, nurturing environment with a carefully .