hobi yang tidak bisa aku tinggalkan sejak kecil

hobi yang tidak bisa aku tinggalkan sejak kecil
boneka lucu

Senin, 21 Februari 2011

laporan laba rugi

8.1 HUBUNGAN RUGI LABA DAN NERACA
angka laba rugi merupakan informasi penting yang dicantumkan dalam laba rugi. dalam neraca bisa ditampilkan melalui pos laba ditahan atau laba pos rugi. laporan laba rugi ini adalah penjelasan lengkap dan lebih rinci tentang perhitungan laba rugi ini.laporan laba rugi melaporkan seluruh hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil, dan laba (rugi) selama satu periode tertentu. untuk menyusun laporan ini maka kita perlu mengetahui mana yang termasuk hasil dan mana yang termasuk biaya.
dalam teori akuntansi dikenal dua pendekatan dalam menilai hubungan antara neraca dan laba rugi yaitu articulated dan non articulated. pendekatan articulated artinya laporan laba rugi itu dianggap sebagai subklasifikasi dari pos modal. laba rugi hanya merupakan hasil matematis yang berasal dari perubahan modal dari sutu periode ke periode yang lainnya. sedangkan dalam pendekatan non articulated, laporan laba rugi ini secara matematis independen satu sama lain.
dalam pendekatan articulated ada dua konsep yaitu konsep revenue expense approach dan asset liability approach. dalam konsep pertama revenue expense, laporan laba rugi dianggap laporan yang paling utama semua transaksi dipandang sebagai pos revenue dan expense, semua transaksi dianggap sebagai pengakuan laba(matching), pengukuran laba dan alokasi ke laba rugi. dalam konsep ini yang dipindahkan ke neraca adalah by product dari hasil pengakuan laba atau matching tadi. artinya yang dicatat ke neraca hanya liabilities dan asset.

8.2 KONSEP MATCHING
Biaya adalah semua yang dibebankan kepada produk barang dan jasa yang akan dijual untuk mendapatkan revenue(pendapatan). biaya itu bisa termasuk ke dalam produk itu bisa juga belum termasuk ke dalamnya karena mungkin saja mendahului atau dikeluarkan setelah selesai produknya, misalnya biaya penyusutan,perizinan, asuransi,gaji dll. jika hasil di laporkan berdasarkan proses operasional perusahaan maka setiap kenaikan nilai produk akan menimbulkan kenaikan hasil. sehingga tidak perlu "matching". namun karena hasil dan biaya dua hal yang berbeda dan dilaporkan berlainan secara pembebanan, pembayaran biaya produk dan jasa tidak sama dengan waktu penjualan dan penagihan piutang akibat penjualan itu maka perlu penerapan matching(sesuai).
menurut teori matching concept, maka biaya harus dibebankan sesuai dengan pengakuan dan periode penghasilan. dalam hal sukar melakukan matching maka pembebanan harus dilakukan secara rasional dan sistematis. dalam hal biaya yang dikeluarkan masih memiliki potensi menghasilkan di masa yang akan datang maka dapat ditunda pembebanan nya, sebaliknya jika tidak ada kemungkinannya lagi maka langsung dibebankan. berdasarkan waktu pengeluaran/pembebanan prinsi8p biaya natching dikenal 2 konsep.

8.2.1 direct atau produk matching
pada saat penjualan atau atau hasil diketahui maka hasil ini di match dengan biaya yangf berkaitan dengan produk atau jasa yang dijual saat itu. konsep ini sebenarnya adalah konsep yang mengabaikan beberapa masalah antara lain biaya yang belum bisa dikaitkan lanngsung kepada produk itu, sehingga dalam konsep ini semua biaya lain diluar biaya produk atau jasa itu dianggap sebagai aktiva yang dialihkan ke periode yang akan datang.

8.2.2. indirect atau period matching
disini matching dlakukan antara hasil (penjualan produk dan jasa)yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan / dibebankan selama periode dimana digunakan bukan berdasarkan waktu perolehan atau pembayaran. sebenarnya ini bukan murni matching ini adalah approximation dari matching. namun konsep ini dapat diterima karena beberapa alasan :
(1) banyak biaya periodik secara tidak langsung dikaitkan dengan biaya pada periode sekarang. sehingga tidak berbeda antara matching menurut dasar penggunaan atau dasar waktu pelaporan, misalnya biaya sewa toko dengan hasil penjualan.
(2) untuk hal-hal tertentu sukar mengidentifikasi hubungan langsung antara suatu jenis hasil dan biaya. biaya kadang dimaksudkan untuk seluruh kegiatan bukan hanya biaya produksi, misalnya biaya seragam pegawai.
(3)jika misalnya suatu biaya tidak bisa dianggap akan memberikan kontribusi terhadap hasil yang akan datang mengapa tidak dibebankan pada periode sekarang.
(4) untuk biaya yang bersifat berulang-ulang dan regular maka tidak ada pengaruh material terhadap masalah kapan dibiayakan.
(5) banyak biaya bersifat joint cost yang sukar diasosiasikan untuk hasil tertentu sehingga memerlukan alokasi arbitrer dengan menggunakan dasar waktu.

8.3 DEFINISI HASIL, BIAYA DAN LABA
ada 3 definisi yang akan kita bahas dibawah ini menurut Committee on Terminology, APB statement, dan FASB statement.

8.3.1 Hasil (Revenue)
Committee on Terminology mendefinisikan revenue sebagai hasil dari penjualan barang atau jasa yang dibebankan kepada langganan, atau mereka yang menerima jasa. definisi ini menggunakan pendekatan revenue expense.
APB mendefinisikan sebagai kenaikan gross di dalam asset dan penurunan gross dalam kewajiban yang dinilai berdasarkan prinsip akuntansi yang berasal dari kegiatan mencari laba. definisi ini seolah-olah merupakan pendekatan revenue expense tetapi dari kalimat "sesuai dengan prinsip akuntansi, maka jelas ini menunjukkan pendekatan asset libiality.
kemudian FASB memberikan definisi revenue sebagai arus masuk atau peningkatan nilai asset dari suatu entity atau penyelesaian kewajiban dari entity atau gabungan keduanya selama periode tertentu yang berasal dari penyerahan produksi barang, pemberian jasa atau pelaksanaan kegiatan lainnya yang merupakan kegiatan utama perusahaan yang sedang berjalan. definisi ini jelas menggambarkan pendekatan asset liabilities.


sumber : Harahap Sofyan Syafri.TEORI AKUNTANSI.2001.jakarta : rajawali pers (edisi revisi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar